Putus Cintaaa…

Posted: September 30, 2012 in asal ngecap
Tag:

Wah, ini tulisan perdana mengenai cinta..

sayangnya pula menjadi kisah pahit yang harus saya tuangkan kedalam cerita ini.

alkisah ini adalah kisah nyata dari perjalanan hidup seorang anak manusia, yang baru menjalin cinta diusia 27 tahun. diumur yang bisa dibilang sudah dewasa untuk hal percintaan, namun nyatanya masih awam dengan urusan perasaan. maklum, sekalinya menjalin cinta langsung LDR (tuntutan pekerjaan), beraaaattt banget dan sering makan  hati. selama “pacaran” ini suka, duka, manis dan pahitnya sudah dirasakan dan semestinya membuat hubungan makin kuat, tapi apa mau dikata hubungan yang dijalin cuma bertahan kurang lebih 2 tahun. Dengan kisah yang menurut saya cukup tragis (tapi pasti ada yang lebih tragis sih), gimana ngga tragis, nulisnya saja sambil nangis 😥

Goncangan mulai terasa pada saat doi mulai kerja (dulu saya kerja, doi mahasiswi) di Jakarta, mulai ada tanda-tanda/alarm bahaya pada hubungan kami. saya anggap itu hal yang lumrah dihubungan LDR ini dengan tetap ngasih kepercayaan dan kebebasan asalkan komunikasi jalan terus. sekitar 4 bulan setelah dia bekerja, si doi mulai selingkuh (tapi saya taunya sekitar 8 bulan kemudian), itupun karena saya tau dari bantuan teknologi (ceritanya saya lumayan ngga gaptek) dan sosmed, sampai kami lumayan bertengkar dan hampir putus. namun akhirnya doi minta maaf, dan karena rasa cinta saya yang begitu besar, saya maafkan dia. kemudian tak lama berselang, muncul lagi kejadian yang menggoncang hubungan kami, kali ini dia melakukannya lagi!! bisa dibayangkan betapa marah dan kecewanya saya pada saat itu, namun lagi-lagi karena kebesaran cinta dan sayang saya kejadian tersebut saya maafkan dengan komitmen ga bakal ngulangin lagi. sejak saat itu hubungan kami lumayan tambah mesra, doi selalu terbuka dan komunikasi selalu lancar, sampai pada suatu waktu kita merancang acara lamaran (hubungan kami sudah direstui kedua belah pihak orang tua masing-masing). Detil acara kami siapkan, memang doi yang paling banyak ngurus ini itunya, soalnya saya bertugas di pulau dewata, orang tua saya ada di pulau garam dan rumah doi di kota warteg. saya cuma bisa via telepon, nanyain progress dan lain-lain. sampai disitu saya berfikir bahwa hubungan kami bakalan berlanjut kejenjang yang lebih serius, meskipun memang seiring waktu ada beberapa pertengkaran karena beda pendapat. Dan sampai pada perhelatan acara “lamaran” kami (hal yang paling saya nanti-nantikan) semua berjalan sesuai rencana. Bapak dan Ibu saya beserta rombongan berangkat dari pulau garam menuju venue acara “lamaran” digelar dan sampai di lokasi beberapa jam sebelum acara dimulai. acara terbilang berlangsung sukses dengan ditandai “pengikat” yang dipasangkan Ibu saya kepada Wanita pujaan hati berupa kalung emas.

Alhamdulillah…, itu kata pertama yang saya ucapkan dalam hati seiiring doa para hadirin yang ada di acara tersebut.

setelah acara usai dan keluarga kembali ke pulau garam, saya dan wanita saya kembali ke Jakarta dan saya melanjutkan perjalanan ke pulau dewata untuk memulai aktifitas bekerja seperti biasa. beberapa pekan setelah acara “lamaran” tersebut mulai ada bibit-bibit perselisihan dan perbedaan pendapat. saya pribadi tidak mengetahui sebab musabab pastinya, karena dia hanya bilang “sudah kurang sreg” dengan saya….OMG saya terdiam seribu bahasa, sambil tetap berdoa dalam hati semoga dia meralat perkataannya. saya berusaha memahami, mungkin karena padatnya katifitas kerja dia sehingga menyebabkan dia capek dan berfikir seperti itu (doi dipindah divisi kerja). namun, lama kelamaan rutinitas telepon dan lain sebagainya mulai terasa membosankan dan kurang menarik lagi, saya berfikir itu dilakukan “hanya” bentuk rutinitas saja. muncul “bakat” detektif saya, dengan berbekal paham teknologi seadanya saya mulai bergerilya….

dan hasilnya sungguh diluar harapan saya, dia mulai berinteraksi lagi dengan selingkuhannya dulu..itu saja sudah cukup membuat saya syok. dengan membaca bismillah, saya beranikan diri untuk bertanya yang sesungguhnya, namun doi mengelak. sampe tetep saya paksa-paksa doi tetep ngelak habis-habisan, saya memang tidak mendapatkan bukti konkret dari perselingkuhan itu. namun firasat saya yang pernah doi khianati 2 kali mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, terlihat dari cara berkomunikasi doi yang selalu mengatas namakan “kesibukan”. karena saya tidak mau kejadian berulang-ulang terus, saya beranikan untuk bertanya secara terus terang dan menanyakan kembali komitmen doi. ternyata dengan nada yang datar-datar saja doi bilang lagi kalo sudah tidak sreg dan mulai tidak nyaman dengan LDR, diluar ekspektasi saya sebenarnya namun saya terus bertanya, akan dibawa kemana hubungan ini (macam lagunya armada saja). dengan santainya doi bilang “kalo mau putus ya sudah”…just it!! oke enough for me!! aku cowok dan ga mau diremehkan seperti ini, meskipun marah banget saya sempat bilang terima kasih atas 2 tahun hubungan ini bla…bla..bla…then tut..tut..tut…saya tutup telepon, nangis bentar kemudian ambil jaket dan keluar rumah…saya cari tempat sepi untuk meredakan kesedihan saya, kembali kerumah jam 2 dini hari sampe ga sempet liat pertandingan bola MU vs tottenham (menurut berita MU kalah 2-3 dikandang). besoknya saya tetep ngantor tp cuma untuk nulis hal ini saja, sebagai pelampiasan sedihnya hati ini

*ditulis di kantor proyek hotel di pulau dewata 30/09/2012

Iklan

Balada Sebuah Profesi

Posted: Desember 21, 2010 in asal ngecap
Tag:

Pada saat kita masih kanak-kanak, tentunya sering kita ditanya oleh orang-orang sekeliling kita “mau jadi apa nanti kalo udah gede?”

masihkah inget dengan pertanyaan seperti itu???  Hmm…mari kita renungkan dan coba ingat-ingat kembali, jawaban apakah gerangan yang dahulu kita lontarkan.

oke, sambil mengingat-ingat jawabannya kita coba hubungkan jawabannya (bagi yang sudah ingat :D) dengan apa yang kita capai saat ini.  Setidaknya ada beberapa kemungkinan dari jawaban yang kita kumpulkan, ada sebagian orang yang bilang sudah sesuai dengan jawaban kita dulu, ada yang bilang lebih dari yang apa yang dijawab pada masa kanak-kanak dulu, tentu adapula yang bilang “dibawah” yang dia jawab sewaktu kanak-kanak dulu. tapi, yang lebih parah tentunya yang tidak memiliki impian sama sekali hehehehe…
saya pribadi sebenarnya masuk ke kategori terakhir, hahahaha…. alias belom punya jawaban atas pertanyaan tadi. mungkin pada saat itu belom ada sosok seorang figure yang menarik minat saya untuk menjadi apa kelak. kalo saya duga mungkin juga secara general rata-rata jawaban yang dilontarkan bukan menjadi patokan, dan itu memang benar. lha wong jik cilik koq disuruh jawab sing aneh-aneh, pikirane yo jik pengen maen-maen tho yo (bahasa jawa :D).
rata-rata apa yang kita inginkan mungkin baru timbul setelah kita menginjak bangku SMA atau SMU atau SLTA (nama banyak dengan arti sama 😛 , boros red) ato mungkin SLTP? masa bodo yang mana, biar itu urusan seorang psikolog. tapi, setidaknya saat kita memiliki keinginan rata-rata pada saat SLTA, disitu semua harapan seakan-akan dipupuk dan disiram agar semua impian tercapai.
So, apakah yang kita alami saat ini sudah sesuai? percayakah anda dengan kekuatan pikiran/impian yang kita inginkan pada saat SLTA dahulu?